You need to enable javaScript to run this app.

Gema Deklarasi Ruteng 2026: Saat Iman dan Ekologi Bertemu di Aula Assumpta

  • Kamis, 05 Februari 2026
  • Administrator
  • 0 komentar
Gema Deklarasi Ruteng 2026: Saat Iman dan Ekologi Bertemu di Aula Assumpta

Kota dingin Ruteng kembali menghangatkan dunia dengan pesan persaudaraan yang melampaui sekat keyakinan. Pada Rabu (4/2), bertempat di Aula Assumpta-Paroki Katedral Ruteng, momen bersejarah bertajuk "Program Silaturahmi Pencerahan dan Perluasan Pemahaman: Ekologi, Iman, dan Persaudaraan Sejati" sukses digelar guna menandai Hari Persaudaraan Kemanusiaan Internasional 2026.

​Kegiatan yang berlangsung khidmat sejak pukul 15.30 hingga 18.00 WITA ini menghadirkan perpaduan harmoni antara para pemuka agama, pimpinan daerah, organisasi wanita lintas agama, pendidik, hingga kelompok intelektual muda.

​Sekilas Sejarah: Warisan Abu Dhabi dalam Sambutan Ketua FKUB

​Membuka perhelatan dengan penuh wibawa, Ketua FKUB Kabupaten Manggarai, Sr. Yohana, SSpS, membedah urgensi sejarah di balik tanggal 4 Februari. Ia membawa ingatan hadirin kembali ke fajar tahun 2019 di Abu Dhabi, saat Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed el-Tayeb, menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia.

​"Hari ini bukan sekadar peringatan di atas kertas. Ini adalah mandat global yang lahir dari Abu Dhabi dan dikukuhkan PBB pada 21 Desember 2020 sebagai Hari Persaudaraan Kemanusiaan Internasional," tegas Sr. Yohana. Beliau menekankan bahwa di Manggarai, dokumen tersebut dihidupkan melalui komitmen menjaga alam sebagai satu-satunya rumah bersama.

STIE Karya Ruteng: Dirigen Perubahan di Era Digital

​Kehadiran STIE Karya Ruteng menjadi energi baru dalam pertemuan ini. Mahasiswa lembaga ini tidak sekadar hadir sebagai peserta, melainkan mengambil peran strategis sebagai dirigen perubahan. Di tangan mereka, nilai-nilai luhur persaudaraan diterjemahkan ke dalam narasi digital yang segar, memastikan pesan ekologi dari pelosok Manggarai bergema kuat di ruang virtual generasi Z.

Dialog Teologis: Dua Perspektif, Satu Tujuan

​Puncak pencerahan batin tersaji lewat dialog teologis yang memukau nalar:

​RD. Agustinus Manfred Habur, Pr (Perspektif Katolik): Membedah Ensiklik Laudato Si’, beliau menegaskan bahwa krisis lingkungan adalah alarm krisis moral. "Mencintai Sang Pencipta berarti merawat ciptaan-Nya," ungkapnya lugas.

​Bpk. Gede I. Widyarta (Perspektif Hindu): Mengetengahkan konsep Tri Hita Karana, beliau mengingatkan bahwa alam (Palemahan) adalah tubuh kosmik yang suci. Tanpa keharmonisan dengan alam, kesejahteraan sejati hanyalah angan.

"Akuntansi Iman" dari Alya Sale

​Momen emosional memuncak saat Alya Sale, mahasiswi perwakilan STIE Karya Ruteng, menyampaikan refleksi yang menggetarkan sanubari:

"Bagi kami di STIE Karya, menjaga alam adalah sebuah 'Akuntansi Iman'. Di mana setiap niat baik untuk bumi akan tercatat sebagai warisan bagi kemanusiaan. Jika alam merana, maka martabat kemanusiaan kita sedang dipertaruhkan."*

Puncak Acara: Manifestasi "Piagam Deklarasi Ruteng 2026"

​Sebelum acara ditutup, suasana berubah menjadi sangat sakral. Petugas perwakilan dari berbagai elemen lintas agama maju ke depan, memandu seluruh hadirin untuk membacakan Piagam Deklarasi Ruteng 2026.

​Gema suara dari Aula Assumpta mengikrarkan komitmen untuk memuliakan martabat manusia dan menjadikan kelestarian alam Manggarai sebagai suara iman yang nyata. Perhelatan agung ini diakhiri dengan sesi foto bersama tepat pukul 18.00 WITA—sebuah potret abadi persaudaraan sejati di tanah Manggarai.

​Ruteng, 4 Februari 2026

Para Penggerak Persaudaraan Kemanusiaan Manggarai

Penulis Yosefina Elsiana Suhartini, M.Pd

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Artikel Terkait

Kirenius C.C Watang, S.T.,M.M

- Ketua -

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Karya hadir dalam rangka memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan dan kehidupan yang layak....

Berlangganan
Banner